Naqsabandiyah dari Simalungun Bangun 17 Rumah Suluk di Nusantara
https://anakbangsapost.blogspot.com/2016/06/naqsabandiyah-dari-simalungun-bangun-17.html
Simalungun(ABP)
BUYA DR Syeikh Salman Daim,(foto),selaku Mursiddin (Guru Besar) Tariqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah,Pondok Pesantren Bandar Tinggi Kecamatan Bandar Masilam,Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, dalam kiprahnya untuk Siar Islam,dalam upaya mengembangkan ibadah Suluk dan Tariqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah,telah membangun Rumah Suluk permanen di 17 kota,(daerah) dan negeri di Nusantara.Kiprah ini dirintis secara bertahap sejak beberapa tahun.Termasuk pengembangan pembangunan Rumah Suluk 3 tingkat di Ponpes Bandar Tinggi Simalungun Sumut Indonesia,.sebagai Pusatnya yang dikenal dengan Masjid Darus Sofa Liahlil Wafa (Rumah Suci untuk Mencari Kesempurnaan).
Ditemui secara Silaturrahim Kamis lalu di kantornya Ponpes Bandar Tinggi,saat Buya berkemas akan ke Padang,Jambi,Batam dan ke Bogor,dalam rangka membuka jadwal Suluk secara priodik di negeri tersebut.Atas pertanyaan wartawan,membenarkan,bahwa sampai sekarang,bersyukur dan Alhamdulilah, sudah 17 Rumah tempat Ibadah Suluk, telah dibangun 2 sampai 3 tingkat permanent, setiap tempat di sebagian daerah di Nusantara.Diantaranya,Padang,Jambi,Bogor,Batam,Kalimantan,Dumai,Bangka,diBelitung,Kandis,Baganbatu,Siak Indrapura(Riau) Medan Marindal (Sumut).dan di Indonesia bagian Timur,Sulawesi,Seram dan Ambon.
Direncanakan,di Ambon akan menjadi Pusat Rumah Suluk, untuk willayah Indonesia bagian Timur. Sedang di Kalimantan (Eltikong) akan dipusatkan sebagai pintu Gerbang para jemaah asal Mancanegara,dari Berunai,Malaysia dan Indonesia.Karena Eltikong,posisinya persis ditengah tengah antara Brunai,Malaysia dan Indonesia.
Ditanyak, tentang para peserta jemaah yang mengikuti ibadah Suluk dan Tariqat di negeri atau daerah tersebut,umumnya diikuti secara priodik. Dan jemaahnya dari masyarakat biasa,para pelaku ekonomi (pedagang),birokrat,serta para ulama dan umaroh yang sudah bergelar S1,S2,dan S3,ustadz, bahkan ada yang sudah Profesor,
Para jemaah,berbaur melaksanakan ibadah suluk,pasrah dan ikhlas kepada Allah atas kebesaraNya yang dibimbing oleh para Syeikh Muda atau Khalifah senior dari tahapan tahapan dan ketentuan yang sudah ada, selama waktu dan jadwal ibadah suluk yang ditetapkan.
Buya menegaskan,InsyaAllah,di Sholat Adul Fitri 1 Syawal 1437 H nanti, akan bertindak sebagai Imam dan Khatib yang digelar di Lapangan Rumah Suluk,di Marindal,Medan.Tentang Topik yang akan disampaikan,ua sebagai Khatib,”diantaranya”,tentang kemaslahatan ummat dan tantanganya dizaman modern.Yang kaitanya dengan hidup dan kehidupan, serta menghadapai MEA, dan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.Meningkatkan ekonomi kerakyatan, serta kepedulian,ummat terhadap kemiskinan,sosial dan meningkatkan amal serta ibadah,untuk selalu berzikir,dimana dan kapan saja.Meningkatkan SDM,umumnya kepada bangsa Indonesia.Karena untuk mengimbangi tuntutan MEA diantara, salah satunya adalah ilmu dan SDM yang dimiliki oleh bangsa dan anak negeri.Karena, kalau ilmu dan SDM sudah kita miliki,disuatu saat Negara Indonesia akan menjadi Negara yang ditakuti dan disegani oleh bangsa,Negara dan dunia lain.Jadikanlah, bulan Ramadan dan Syawal 1437H, merupakan momentum dan tekad umat Islam untuk berkiprah dan berbuat lebih banyak untuk kepentingan didunia dan di akhirat,ujar Buya DR.Syeikh Salman Daim,Mursidd (Guru Besar) Tariqat Naksabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah,Sumatera Utara Indonesia tersebut.Seraya Buya menitipkan beberapa pesan dan kesan serta moto tekad perjuangan Siar Islam yaitu,”Keberhasilan Bukan Akhir Perjuangan”.Karenanya,setelah kita selesai membangun Rumah Suluk di suatu daerah,mudahmudahan terus kita bangun dan kembangkan dan hijrah didaerah atau negeri yang lain,lantas terus kita lakukan dakwah dengan moto,”tiada hari tanpa dakwah” dan Generasi Tariqat Naksabandiyah,siap ukir prestasi.Dengan tutur dan ucapan yang santun serta menyentuh, tetap kita sampaikan kepada umat.untuk selalu “katakanlah yang benar,walaupun tidak dalam kebenaran”serta kita selalu “berbuat sebelum orang memikirkan”.Ammin.
Terpisah,mengutip keterangan dari para pengamat,elit Politik dan Birokrat serta elit ekonomi,dan ulama,kalangan tersebut mengherankan dan memberi acungan jempol kepada Mursiddin (Guru Besar) Buya DR.Syeikh Salman Daim,dari Simalungun Sumut.Yang telah berkifrah mengembangkan dan membangun Rumah Ibadah Suluk di 17 kota di Nusantara ini.Kalangan pengamat tersebut mengaku hal ini merupakan langkah dan kegiatan serta Siar Islam yang luar biasa.Ini merupakan bukti yang tidak bisa diraba dan dibaca oleh panca indra tentang keredibilatsnya selaku Mursidd dari Ponpes.Bahkan, tidak semudah bisa dilakukan oleh orang lain.Padahal,selama ini tidak tampak dan Buya itu, tidak banyak berbicara.Terlebih, tentang kepedulianya terhadap para siswa Santri dari Sanawiyah dan Aliyah Ponpes yang dipimpinya, untuk dikirim ke Jawa (Kediri) mengikuti pendidikan Bahasa Inggeris.Sebanyak 5 orang siswa setiap glombang selama 3 bulan, dengan jumlah biaya sedikitnya Rp55 juta,setiap gelombang.Jumlah biaya ini sepenuhnya, ditanggung oleh Buya DR.Syeikh Salman Daim.Kita bersyukur,sampai saat ini, sudah berjalan 6 gelombang,dan para siswa yang telah mengikuti pendidikan di Pulau jawa, Kediri tersebut setelah kembali dari sana,semuanya pintar berbahasa Inggris.Bahkan telah mampu dan tampil bisa memberi ceramah dan berpidato dengan bahasa Inggris.Bahkan bicara komunikasi sehari hari,dengan sesama siswa di Ponpes, dengan berbahasa Inggris.Semoga,hal ini berkelanjutan dan mendapat Ridho dari Allah SWT,harapnya.(sal)

Posting Komentar