Kartini Dari Parlemen Sumut, Inge Amalia Nasution,SPsi Perjuangan Perempuan Belum Selesai
https://anakbangsapost.blogspot.com/2016/04/kartini-dari-parlemen-sumut-inge-amalia.html
Medan(ABP)
Kaum perempuan kini boleh bangga dan berbesar hati. Karena yang namanya emansipasi atau persamaan hak perempuan dengan lelaki sepertinya sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan kesetaraan jender di Indonesia. Lihat saja dewasa ini semua jabatan tinggi sudah diraih perempuan bernama Megawati Soekarnoputri yang pernah menjadi Presiden RI.
Hanya saja kuota perempuan 30 persen yang sudah diamanahkan itu hingga kini masih terdapat kendala untuk mewujudkannya. Masih banyak upaya yang harus diperjuangkan kaum perempuan ke depan.
“Salah satunya adalah mendorong kaum perempuan untuk lebih meningkatkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi,” tutur Anggota DPRD Sumut dari Partai NasDem, Inge Amalia Nasution, SPsi di gedung dewan, jalan Imam Bonjol Medan, Jumat (15/4), menjelang peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2016.
Namun, kata Inge, hal itu belum cukup. Pemerintah juga mesti didorong untuk menganggarkan pemberdayaan perempuan sekaligus mensosialisasikan agar kuota bisa tergapai. Di Sumut, perempuan yang duduk di legislative (DPRD Sumut) yang tadinya 17 orang pada priode 2009-2014 berkurang menjadi 13 kursi pada priode 2014-2019.
Puteri kedua dari Direktur Utama PTPN IV, Erwin Nasution ini merasakan kenyamanan dalam menentukan pilihan untuk karir maupun pendidikan. Hal itu didapat dalam asuhan kedua orang tuanya, terlebih dari ibunda tercinta, Ade Hanifah Siregar. Hal serupa juga dirasakan oleh kakaknya, Poppy D Mayasari.
Inge, alumni Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara tahun 2012 lalu juga mengakui, bahwa salah satu tantangan berat yang dihadapi kaum perempuan adalah bahaya narkoba yang kini sudah menyentuh pedesaan.
Menurut Inge, yang lahir pada 6 Juli 1989, penanggulangan bahaya laten Narkoba yang kini sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintah tidak akan efektif bila tidak melibatkan ibu-ibu rumah tangga. Karena yang mengetahui perilaku anak-anak di rumah adalah ibunya. Namun selama ini sosialisasi tentang bahaya narkoba hanya menyentuh kalangan para pelajar SLTA. Sementara kaum ibu terabaikan.
“Padahal sosialisasi kepada para ibu rumah tangga sangat mudah dilakukan dengan biaya murah. Misalnya dalam pengajian-pengajian wirid Yasin, arisan keluarga dan lainnya. Karena nantinya informasi tentang bahaya narkoba akan disampaikan kepada keluarga maupun lainnya,” kata Inge seraya mengakui bahwa peran ibu rumah tangga sangat besar dalam menentukan arah masa depan anak.
Sebagai kartini muda yang berlatar belakang Sarjana Psikologi, dia sangat prihatin dengan maraknya penyalahgunaan narkoba hingga anak-anak SD. Dia juga mempertanyakan, mengapa semakin diberantas semakin banyak. Bahkan meski sudah banyak yang dihukum mati, tapi para pelakunya tidak jera. “Jadi ini perlu pengkajian bagaimana cara menanggulangi bahaya narkoba secara efektif,”pungkas Inge (vandey)

Posting Komentar