anakbangsapost

Pariwisata Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah

Pembangunan daerah, khususnya Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah sebaiknya harus berlandaskan pada potensi daerah dan masalah ynag dihadapi oleh masyarakat setempat. Potensi sumber daya alam yang terdapat di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah seperti sektor Perikanan, sektor Pelabuhan Eksport dan Pariwisata. Pendayagunaan potensi daerah, terutama sumber daya alam sebagai pokok untuk kemakmuran rakyat harus dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab yang sesuai dengan daya dukungnya serta tetap memperhatikan kelestarian fungsi dan kesimbangan lingkungan hidup. 

Permasalahan potensi yang terdapat di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah antara lain kurangnya penyerapan tenaga kerja, kurangnya sumber daya manusia dan tingkat pemdapatan yang masih r
elatif rendah. Dengan tidak menmgabaikan pengembangan diberbagai bidang sektor lainnya, maka sektor Perikanan, Pelabuhan Eksport dan Pariwisata sangat besar sekali peluangnya sebagai dasar pengembangan pola ekonomi Kerakyatan. Untuk lebih mengenal Kebudayaan Etnis Pesisir Sibolga Tapanuli Tengah yang sebelumnya bernama Kecamatan Siboga adalah Ibukota Tapanuli Tengah dulu dan Sibolga masa sekarang. 
Penulis sebagai Putra Kelahiran Siboga Tapanuli Tengah menjelaskan Selayang Pandang Kebudayaan Etnis Pesisir dan Asal Muasal Siboga Kota Badusanak Saiyo Sakato Siboga Tapian Tampek Mandi yang berasal dari sebuah pulau kecil bernama Poncan Ketek. Sibolga dan Tapanuli Tengah tidak mengenal Berbilang Kaum tetapi Nagarai Badusanak Saiyo Sakato karena di Kota Sibolga tidak ada yang dinamakan : Kaum Jahudi, Kaum Nudis (Kaum Telanjang) seperti di Inggris, Kaum Brahmana, Kaum Sudra, Kaum Proletar dan Kaum Bangsawan. Siboga Nagari Badusanak dengan pengertian bahwa Orang Pasisi (Pesisir) mempunyai hubungan Silaturahim, Sedarah, Sanak Famili, Bersaudara, Handai Tolan, Kawan Sekampung Sehalaman sebagai Anak Nagari (Anak Negri) dan terbuka bagi Etnis pendatang sebagai Saudara yang digambarkan dengan Pakaian Tradisi Pesisir atau Baju Pasisi yang Lengannya Bersambung dan Krahnya Pendek mirip dengan baju Sanghai terbuka kepada setiap pendatang. 
Mari kita berfikiir obyektif sebagai suku pendatang seperti penulis bahwa Ompung Penulis yang datang dari Batak Toba telah menyatu dengan Masyarakat Etnis Pesisir dan bermukim di Siboga Kota Badusanak Saiyo Sakato , Bak Kato Urang Pasisi : Dimano Bumi dipijak disitulangik dijunjung. Jangan Takapak-kapak, Kapak jatu dipasi, Jangan Tabatak-batak Urang Batak ala manjadi Urang Pasisi. 
Pada kesempatan ini kita beritahukan bahwa selain Assalamu’Alaikum ada salam khas Masyarakat Etnis Pesisir yaitu : Oi…….DUSANAK OI…..LAMAT yang menggambarkan kegembiraan Masyarakat Etnis Pesisir sebagai nelayan dengan mata pencaharian penduduk sehari-hari sebagai nelayan dan para nelayan kalau memukat dipinggir pantai akan berteriak Oi…. Lamat … Oi…. Lamat kalau ikan banyak terjaring ke dalam perut jaring yang dinamakan nelayan sebagai Kandu (perut pukat) dan waktu terang bulan para nelayan tidak akan melaut karena terang bulan inilah yang menjadi inspirasi masyarakat 
Etnis Pesisir dijadikan sebagai salah satu bentuk Ornamen yang dinamakan Sari Bulan adalah : Keramah Tamahan Dan Kelembutan Masyarakat Etnis Pesisir Sibolga Tapanuli Tengah seperti “ Ma,am Disinari Bulan”  Bahwa para nelayan pada terang bulan tidak akan Melaut atau pergi berlayar untuk mencari ikan karena waktu terang bulan yang berarti ikan tidak ada dan telah berpindah ketempat lain sehingga masyarakat nelayan di Kota Sibolga Tapanuli Tengah beristirhat sambil menjahit jaring pukat/jala yang terputus dan diwaktu terang bulan itu pula anak-anak Etnis Pesisir akan bermain-main di tepi pantai menikmati terang bulan yang yang indah dan memberikan ketenangan kepada anak-anak 
Etnis Pesisir sambil mencari Kepiting Ambai-ambai dan berlari-lari dipinggir pantai dengan gembira ria. Suatu deskripsi Etnografi adalah kebudayaan yang khas dan istilah Etnografi adalah dari suatu kebudayaan dengan bentuk yang khas adalah “Suku Bangsa” atau Etnis yaitu sifat suatu golongan dan konsep yang masuk dalam istilah Suku Bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan, sedangkan kesadaran dan identitas selalu dikuatkan oleh kesatuan bahasa , maka dengan demikian kesatuan kebudayaan bukanlah hal yang ditentukan oleh orang luar, misalnya : Seorang ahli antropologi, ahli kebudayaan dengan methode-methode analisis ilmiyah lainnya, melainkan oleh pemilik kebudayaan yang bersangkutan dan jelas dalam hal ini penulis mengatakan sebagai orang Pesisir karena kesatuan kebudayaan dan bukan ditentukan oleh orang luar atau Ahli Antropoloigi, atau pejabat atau Ketua Adat tetapi penulis sendiri yang telah mendalami dan memiliki budaya etnis pesisir dan tidak ada seorangpun yang memaksa penulis harus menjadi Orang Batak karena marga adalah budaya yang dibuat oleh manusia. 
Konsep Suku Bangsa atau Etnis lebih kompleks dalam kenyataannya bahwa batas dari kesatuan manusia yang merasakan dirinya terikat oleh keseragaman dan kebudayaan itu tidak terbatas ruang geraknya karena tergantung dari keadaan. Sibolga dibangun tanggal 1 Maret 1850 dengan
penimbunan pertama di depan Gudang Garam Jln..S.Parman sebelah titi tanah pekuburan jung Siboga sebelah jembatan sungai Ai Dare dahulunya kata Orang Pesisir dan belakangan disebut para pendatang dari Batak Toba disebut Aek Doras sampai ke seluruh Kawasan Siboga yang dinamakan orang pesisir sebelumnya dari pulau Poncan Ketek dialek pesisir Siboga yang ditimbun orang-orang tawanan Belanda dari berbagai Provinsi seperti Sulawesi Selatan (Makassar/ Bugis), Jawa dan lain-lain yang melawan Belanda untuk merebut kemerdekaan. 
Siboga diresmikan pada tanggal 1 Maret 1851 dengan berpindahnya sebahagian Penduduk Masyarakat Etnis Pesisir dari pulau Poncan Ketek ke Siboga dengan membawa kebesaran paying kuning dan Adat Sumando Pasisi (pesisir) oleh Abdul Muthalib dengan gelar Datuk Bandaharo Kayo yang lebih dikenal dengan nama Datuk Itam yang dulu pernah bermukim di pulo Poncan Ketek kerana Keluarganya Tahun 1685 dibawa oleh Inggris ke Bengkulu dari Negeri Nagur India Selatan dan Datuk Itam lahir di Bengkulu tahun 1760 dan dari Bengkulu bermukim di pulo Poncan Ketek yang akhirnya ke Siboga. 
Perlu kita kitahui bahwa Siboga berasal dari nama buah Boga-boga yang tumbuh di Tepi Pantai yang Buahnya jatuh le laut dan dimakan ikan Cati kata orang Pasisi (Bahasa Pesisir) dan Dekke Bolga-bolga kata Orang Batak Toba sebagai Etnis Pendatang dari Tapanuli Utara yang dibawa oleh Keluarga Tuanku Dorong Hutagalung tahun 1688 dan Tuanku Dorong Hutagalung lahir tahun 1745 mengapa dikatakan Sibolga diresmikan Tuanku Dorong Hutagalung, apakah sebelum lahir dia telah meresmikan Sibolga dan di Sibolga waktu itu hanya ada suku (Etnis) Pesisir sebelumnya sejak perpindahan penduduk dari pulau Poncan Ketek ke Sibolga dan tidak mengenal berbilang Kaum tetapi Siboga Nagari Badusanak Saiyo Sakato. 
Bahasa Pasisi (Pesisir) sudah ada sejak Tahun 600 takalo pulau Poncan Ketek (ketika masyarakat yang ada di pulau Poncan Ketek yang dibuktikan Masyarakat Etnis Pesisir yang berasal dari Pulau Poncan Ketek sebelum Sibolga ada dan secara Obyektif dan Logika berfikir bahwa Penulis bernama Radjoki Nainggolan yang nama Radjoki dan Marga Nainggolan (marga Batak) dan Ompung penulis dahulunya datang dari Batak Toba tidak membawa budayanya tetapi menjumpai Orang Pesisir dengan Budaya Etnis Pesisir sehingga terjadi Akulturasi dengan Budaya Etnis Pesisir yang dominan dengan Etnis Batak maupun Minang dan lain-lain maka sudah jelas Ompung Penulis masuk kedalam lingkungan Budaya Etnis Pesisir, contohnya nama kampung Sabala dahulunya menjadi Pasar Belakang sekarang tetapi belakangan ini ada perobahan nama seperti nama yang tidak pas seperti Kampung Aiyabi sudah berobah menjadi Aek Habil dan begitu juga Kampung Ai Mani sudah menjadi Kampung Aek Manis, Sambam menjadi Sombom, Panyambaman menjadi Panomboman, Pincuran Karambi menjadi Pancuran Kerambil (Tidak ada artinya), Parambunan menjadi Parombunan, Pulo Situngkus menjadi Pulo Sitppus, Pal Tuju menjadi Pal Pitu, Pulo Musala menjadi Marsala Island dan di Tapanuli Tengah Saiyo Sakato menjadi Sahata Saoloan yang bukan bahasa Pesisir dan nama tersebut harus dikembalikan kepada bahasa Pesisir. 
Kalau memang yang dominan Budaya Batak tentu ada Ornamen Batak di Sibolga dan Tapanuli Tengah seperti di 4 Kecamatan terdahulu seperti Kecamatan Barus, Kecamatan Sorkam, Kecamatan Sibolga dan Kecamatan Lumut, tetapi tidak ada Ornamen Batak tetapi yang ada adalah Ornamen gaya Pesisir yang telah dikumpulkan dan diaduk serta disempurnakan serta dibuat namanya oleh penulis ( Radjoki Nainggolan ) dengan nama SALUK UKI dari Inspirasi Rumah-rumah penduduk maupun inspirasi nelayan dari beberapa desa kecamatan tersebut tetapi setelah belakangan ini barulah ada perobahan dari Budaya Pesisir kepada Budaya Batak seperti dahulunya 
Para Penjaja ikan menjual Ikan dengan Bahasa Pesisir Oi…..Lauk (ikan) diseluruh pelosok yang dinamakan Tapian Nella atau Tepian Yang Indah bahasa Tamil dan bahasa Batak Tapian Nauli. Ruang Lingkup Kebudayaan Pesisir Ruang Lingkup Kebudayaan Pesisir menurut Wilayah Geography Administrasi Budaya Etnis Pesisir Sibolga Tapanuli Tengah yang mempunyai suatu kesatuan dalam Budaya yang disebut “SUMANDO” yang terdiri dari 
1. Adat Pesisir 
2. Kesenian Pesisir 
3. Bahasa Pesisir 
4. Makanan Pesisir. 
 Kebudayaan Pesisir adalah : Hasil dari kegiatan serta pemikiran dan perasaan serta kemampuan masyarakat Etnis Pesisir dalam menata kehidupan sehari-hari dalam kumpulannya sebagai masyarakat yang meliputi pengetahuan Adat Istiadat Pesisir, Kesenian Pesisir, Bahasa Pesisir dan Makanan Pesisir. 
Sumando Pesisir : Adalah suatu pertambahan dan percampuran antara satu suku /keluarga dengan keluarga lain yang diikat dengan pernikahan menurut Agama Islam dan dikukuhkan dengan Adat Pesisir. 
Adat Pesisir : Tingkah laku dan perbuatan masyarakat Etnis Pesisir sehari-hari sebagai suatu kesatuan dalam masyarakat menurut kebiasaan yang telah diatur oleh norma-norma Agama Islam dalam pandangan dalam kesatuan sebagai tabiat. 
Kesenian Pesisir : Adalah tingkah laku dan perbuatan Etnis Pesisir yang disalurkan melalui kegiatan Karya Seni Tari yang berwujud Keindahan, Kesenangan dan Kepuasan pada dirinya dan Mempesona Orang yang menyaksikannya. 
Bahasa Pesisir : Adalah perwujudan hubungan persaudaraan yang penuh keakraban dalam penyampaian pesan dan kesan melalui ucapan yang Indah mengandung ptatah-petitih sehingga menyentuh perasaan dan dapat dimengerti sehingga maksud berkomusikasi tercapai dengan baik. 
Masakan Pesisir : Adalah suatu kemauan dan kemampuan serta keahlian Suku Bangsa Pesisir yang disalurkan melalui Karya Seni kerajinan tangan untuk mewujudkan penataan masakan dan makanan pokok dan makanan ringan secara tradisi, Budaya Etnis Pesisir keberadaannya sudah ada sejak Tahun 600 (Abad Ke-6) takalo Poncan (sewaktu) pulau Poncan Ketek dan berkembang pada Abad Ke-7 sejak masuknya Islam pertama ke Barus pada zaman Putri Runduk. 
Masalah Yang Dihadapi Beberapa masalah yang Dihadapi Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah antara lain : 
a. Kurangnya pembinaan sektor pendidikan 
b. Perguruan tinggi swasta yang tumbuh dan berkembang tidak menggambarkan pendidikan yang berkualitas. 
c. Penyerapan tenaga kerja pada lapangan yang tersedia masih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja. 
d. Pengelolaan sumber daya alam, penguasaan tehnologi, pemrosesan hasil maupun pemasaran hasil perikanan , pelabuhan eksport dan pariwisata masih rendah. 
e. Angkatan kerja di sektor Perikanan, perdagangan, pelabuhan eksport dan pariwisata tinggi namun pendapatan masih relatif rendah. 
f. Kurangnya pembinaan terhadap lembaga ekonomi seperti koperasi. 
g. Lemahnya jaringan pemasaran hasil, terutama berorientasi Ekspor. 

Arah dan Tujuan Berdasarkan sumber daya alam dan potensi yang dhadapi masyarakat Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah maka pembangunan yang akan dilakukan diarahkan kepada penyelesaian dan masalah yang dihadapi dan upaya-upaya, untuk itu dapat dilakukan seperti : 
a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengintensifikasikan ekploitasi dan sumber daya alam. 
b. Pengelolaan sumber dala alam dapat membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya. 
c. Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat Perikanan, pelabuhan eksport dan pariwisata. 
d. Melakukan pembinaan lembaga ekonomi, seperti koperasi dan jaringan kerja antar lembaga. 
e. Membuka Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan/Kelautan S1 atau D3 dan membuka Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata S1 atau D3 untuk menyahuti SDA Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. 

Sasaran-Sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil proeses pembangunan adalah terciptanya kualitas masyarakat yang maju dan mandiri dalam suasana tentram, sejahtera lahir dan bathin dalam lingkungan serasi dan seimbang dalam tata kehidupan masyarakat, Berbangsa dan Bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 
Pembangunan merupakan rangkaian kegiatan yang senantiasa dilakukan setiap masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik sehingga dengan demikian setiap masyarakat atau negara selalu terlibat dalam pembengunan masyarakatnya. Menurut SP Siagian bahwa : Pembangunan didefinisikan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju Modernitas dalam pembinaan bangsa (Natinoal Building). 

Penulis :Radjoki Nainggolan,SE.MA Dosen Fisipol UMSU 



Related

Pariwara 4398829818949229364

Posting Komentar

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Edisi Cetak

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
item