Warga Dua Desa Pantai Labu Rubuhkan Tembok Bandara
https://anakbangsapost.blogspot.com/2014/09/warga-dua-desa-di-pantai-labu-rubuhkan.html
Pantai Labu (ABP)
Karena takut rumah dan desanya kebanjiran akibat sungai yang mengalir dari desa mereka tidak sanggup lagi menampung air hujan, puluhan warga dari dua desa yakni Desa Perkebunan Ramunia
dan Desa Ramunia II Kecamatan Pantai Labu, merubuhkan tembok pembatas bandara Kuala Namu. Perubuhan tembok ini dilakukan agar air mengalir jika sungai pengendalian banjir di desa
mereka tidak sanggup menampung curahan airpada Minggu (21/9/2014) pagi.
| Warga Desa Perkebunan Ramunia dan Desa Ramunia II Kecamatan Pantai Labu, merubuhkan tembok pembatas bandara Kuala Namu (foto: kabulan) |
Hujan deras mengguyur Bandara Kuala Namu dan sekitarnya semalaman telah mengakibatkan sungai yang mengalir di Desa Perkebunan Ramunia Kecamatan Pantai Labu, yang berbatasan langsung dengan bandara Kuala Namu meluap hingga setinggi 2 meter.
Keadaan ini pun semakain diperparah akibat Kanal Belanda yang menjadi penampungan air sungai
untuk selanjutnya dialirkan ke laut yang dibangun Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara II tidak kunjung selesai dibangun.
Sementara itu saluran air sementara yang dibuat PT AP II tidak mampu menampung dan mengalirkan air sungai yang meluap, akibatnya air pun mulai menggenangi rumah warga sekitar bantaran sungai.
Puncaknya terjadi sekira pukul 06.00 Wib dimana sungai meluap hingga setinggi sekira 2 meter .
Akibat saluran air sementara yang dibuat PTAP II di bawah tembok pembatas bandara yang berfungsi untuk mengalirkan air ke sungai yang ada, di dalam kawasan bandara air pun
menggenangi rumah warga sekitar bantaran sungai.
Puluhan warga dari dua desa yang ada di sekitar sungai yang meluap pun takut air sungai yang meluap membanjiri rumah mereka, bermasksud akan menjebol benteng yang membatasi sungai dengan kanal agar air sungai yang meluap mengalir ke kanal.
Namun hal itu urung dilakukan puluhan warga sekitar yang sudah berada di lokasi disebabkan proyek kanal yang akan mengalirkan air sungai ke laut, belum seluruhnya selesai tepatnya di Desa Pantai Labu Baru
Kecamatan Pantai labu sepanjang sekira 50 meter.
Warga sekitar khawatir jika benteng tersebut dijebol maka air akan membanjiri Desa Ramunia II disebabkan air tidak bisa mengalir ke laut.
Melihat kondisi air sungai semakin tinggi dan sudah menggenangi rumah Ponirin (40) bapak beranak 2 ini ditakutkan akan menggenangi rumah lainnya, maka puluhan warga memutuskan untuk merubuhkan tembok pembatas yang menghalangi air sungai mengalir ke sungai yang berada di dalam kawasan bandara.
Dan sebelum dibangun tembok tersebut tak pernah banjir didaerah mereka. Tanda komando dan spontan warga sekitar pun langsung melompat ke sungai yang sudah meluap dan ber-arus deras itu termasuk kepala desa Ramunia II Suparno.
Warga pun berenang kearah tembok pembatas bandara itu yang berjarak beberapa meter dari benteng sungai.
Saat berada di dekat tembok warga pun mengikatkan tali tambang ke besi pondasi tembok. Setelah memastikan tali terikat kuat , puluhan warga yang berdiri di benteng sungai pun menarik tali itu denga sekuat tenaga.
Seketika tembok pun berhasil dirubuhkan dan air sungai yang meluap pun mengalir ke sungai yang berada di dalam kawasn bandara.
Aksi warga merubuhkan tembok pembatas bandara sepanjang sekira 5 metar dan setinggi sekira 3 meter itu dikawal ketat puluhan petugas gabungan yang terdiri dari petugas AVSEC, petugas keamanan pos 8 yang berjarak sekira 500 meter dari lokasi, petugas Polsek Beringin serta TNI.
Sementara itu Kepala Desa Perkebunan Ramunia Prasojo yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa proyek pembangunan kanal Belanda ini, sudah dimulai sejak 2 tahun lalu namun karena terkendala biaya ganti rugi
maka pembengunannya berhenti sejak sekira 8 buan yang lalu,” proyek pembangunan kanal berhenti sejak sekira 8 bulan ynag lalu akibat terkendala ganti rugi lahan,” ungkapnya.
Lanjut Prasojo bahwa warga sudah melakukan koordinasi dengan pihak PT AP II untuk merubuhkan tembok pembatas.
Terpisah Camat pantai Labu , Drs Ayub mengungkapkan bahwa aksi warga merubuhkan tembok spontan dan tanpa seizinnya karena keadaannya mendesak, sehingga warga harus merubuhkan tembok pembatas.
Ayub pun sangat menyayangkan lambatnya pembangunan kanal tersebut ,” seharusnya kanal sudah selesai dibangun sehingga warga tidak khawatir akan terjadi banjir ,” ungkapnya.
Sementara itu Kapolsek Beringin AKP Iwan Kurnianto SH didampingi Kanit Reskrim Ipda Suyadi mengungkapkan bahwa dirinya bersama anggota dilokasi hanya bersifat mengamankan aksi saja sehingga warga sekitar
tidak anarkis .”
Kita hanya mengamankan aksi saja sehingga warga tidak melakukan tindakan anarkis mengingat bandara merupakan objek vital,” ungkapnya.
Sementara itu manajer pelayanan bandara PT AP II cabang KNIA Djamal Amri di hubungi lewat seluler guna untuk dikomprimasikan masalah tersebut tidak mau menjawab,mestipun sudah terlebih dahulu di
sms .(KK/Adis)
Posting Komentar