Perempuan Aceh Pemanen Padi
https://anakbangsapost.blogspot.com/2014/09/perempuan-aceh-pemanen-padi.html
Bireuen, (ABP)
Musim panen padi di Aceh membuat para perempuan Serambi Mekah
ikut mendapat tambahan penghasilan dengan bekerja sebagai pemotong padi. Sabit
(sadeup) menjadi alat utama untuk memanen padi.
Da Insyah perempuan asal Blang Gandai, Kecamatan Jeumpa, Bireuen yang
diperkirakan berumur lebih setengah abad, saat ditemui Ketua Pemuda
Tani Indonesia HKTI DPD Aceh, menceritakan kisah keluhnya harus
menjadi pemotong padi di negeri Serambi Mekah. Ia mengaku melakukannya untuk membantu
menafkahi keluarganya.
Saat ditanya upah yang diperoleh, Da Insya yang sedang
asik memotong padi bersama teman-temannya mengatakan upah yang diterima Rp. 140.000 per 1000 meter. "Jika dikalkulasi perhari kami dapat
sekitar Rp. 60.000," kata Da Insyah. Ia harus berangkat pagi
hari mengais rezeki di tanah kelahirannya yang sering dibilang kaya
raya.
Sebagai informasi, Aceh yang merupakan salah satu wilayah agraris
dengan sawah yang terbentang luas, telah ikut membantu menopang
kebutuhan pangan nasional, terutama dalam kebutuhan beras.
Pun demikian, ada banyak persawahan yang masih termarjinalkan, belum
bisa dimanfaat secara maksimal.
Padahal dengan menghidupkan
semua areal sawah di Aceh (sawah tadah hujan) akan berdampak pada
meluasnya lahan pekerjaan sekaligus membantu mengurangi angka
pengangguran. Untuk mendorong peningkatan luas persawahan, sangat perlu keikutsertaan semua pihak.
Kurang Irigasi
Berbicara tentang sawah, irigasi merupakan sarana prioritas yang sangat
dibutuhkan para petani. Atas dasar tersebut Pemuda Tani Indonesia
HKTI DPPd Aceh mendesak Pemerintah Kabupaten/Kota, pemerintah Aceh dan
Pemerintah Indonesia untuk fokus pada pembangunan irigasi di seluruh
Aceh. Biar tidak nampak Cilet-cilet (asal-asalan) dalam pembangunan
sektor pertanian yang sering di gembar gemburkan.
Muhajir Birly salah seorang petani di Juli punya harapan besar agar
seluruh lahan sawah yang ada di kabupaten Bireuen, bisa memproduksikan
hasil pertaniannya dengan optimal. Hal ini diamini mantan Wakil Ketua DPRK Bireuen Zulfikar AW, yang juga salah seorang aktifis.(rel)
Posting Komentar