Lampu Jalan dan Kemiskinan Jadi Topik Reses DPRD Kota Tebing Tinggi
https://anakbangsapost.blogspot.com/2015/12/lampu-jalan-dan-kemiskinan-jadi-topik.html
Tebing Tinggi(ABP)
Urusan lampu jalan dan kemiskinan menjadi topik reses di kota Tebing
Tinggi yang dilaksanakan di penghujung tahun 2015, Jumat – Minggu
(11/13-2015).
Masalah tersebut diungkapkan kepada Hj. Sofiani Tambunan yang melakukan reses di Kelurahan Deblot Sundoro, Chairul Mukmin Tambunan, di Jalan Cik Ramlah, Ibrahim Nasution di Kelurahan Satria,
Murli Purba di Kelurahan Pelita, Ir. Zainal Arifin di Kelurahan Lubuk
Raya, Edi Syahputra di Jalan Kumpulan Pane, Ir. Pahala Sitorus di
Kelurahan Pasar Baru, Mhd. Azly Azhari Hasibuan ST., Fahmi di
Kelurahan Sri Padang, Ketua DPRD Mohd. Ridho Chap di Jalan Asrama
Bagelen.
Lampu jalan sangat diperlukan oleh warga Jalan Bakti, Jalan Cik
Ramlah, Jalan Bakti, setidaknya diperlukan 43 tiang listrik dan
ratusan lampu jalan yang tidak berfungsi. Malam hari kawasan itu hanya
mendapat penerangan yang sangat minim dari lampu rumah yang dibuat
warga setempat. Di Gang Ikhlas Kel. Deblot Sundoro bahkan sejak tahun
2013 menurut warga ada “orang” Pemko telah menghitung 12 tiang
listrik dan bola lampu diperlukan namun hingga di tahun 2015 tiang
listrik tersebut tidak kunjung tersambung. Arus listrik dialirkan dari rumah ke rumah.
Masalah lampu jalan yang tidak diperbaiki oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tebing Tinggi dikeluhkan juga Kelurahan Lubuk Raya, Kelurahan Satria. Para Anggota Dewan Chairul
Mukmin Tambunan, Hj. Sofiani Tambunan, Ir. Zainal Abidin Tambunan,
mengatakan kepada warga bahwa hal itu akan disampaikan kepada instansi
Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk segera dilakukan perbaikan.
Kebutuhan raskin (beras miskin) diungkapkan di hampir keseluruhan
warga.
Warga mengatakan bahwa banyak pelayanan raskin di wilayahnya
tidak tepat sasaran, warga sangat bingung bagaimana orang yang
memiliki tempat tinggal yang permanen, memiliki sepeda motor bisa
mendapatkan raskin, sementara yang jompo tak berpenghasilan, atau
janda tak berpenghasilan tetap yang harus menanggung biaya keperluan
anak-anaknya tidak mendapatkan raskin.
Hal itu berlangsung bertahun-tahun, dan tidak bisa dirubah oleh siapa pun dan dalam
kondisi apa pun, baik oleh DPRD, lurah, kepling masing-masing juga
tidak dapat memberikan perubahan dalam hal ini. Sebab pendataan dan
penetapan orang-orang yang memperoleh raskin atau BLT adalah pegawai
instansi Badan Statistik Nasional.
Di Kelurahan Pelita, menurut keterangan Lurah Pelita, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing Tinggi,
Sihombing terdata ada 183 penerima raskin dan calon penerima raskin
yang didata baru-baru ini tahun 2015 diusulkan bertambah menjadi 243
calon penerima raskin.
Sementara jika angka tersebut bertambah maka dipastikan tingkat kesejahteraan masyarakat menurun, dalam hal ini pendapatan masyarakat tidak meningkat, yang mengindikasikan pemerintah
daerah gagal melakukan tugas sesuai UU RI Nomor 32 tahun 2004 yang
menekankan pertimbangan utama diselenggarakannya otonomi daerah
diarahkan uuntuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta
masyarakat, dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah.
Hal Lain yang diungkapkan oleh Lurah Pelita, Sihombing, dihadapan reses oleh Anggota
DPRD Murli Purba, bahwa tercatat 20 penunggak UKM di kelurahan Pelita
yang menegaskan sanksi jika ada anggota masyarakat yang membutuhkan
kredit UKM akan terkendala.
Persoalan Jamkesda dan Jamkesmas dijadikan topik pembahasan yang alot
dalam reses yang dilakukan oleh Edy Syahputra anggota DPRD Kota Tebing
Tinggi, yang mengadakan reses di kediamannya di Jalan Kumpulan Pane.
Masyarakat mengeluh bahwa kartu Jamkesda dan Jamkesmas yang mereka
miliki ditarik ketika mengambil raskin, akibatnya mereka bingung
menghadapi persoalan kesehatan. Edy Syahputra mengatakan bahwa di Kota
Tebing Tinggi tersedia anggaran pemerintah untuk 22.000 peserta BPJ
yang dilayani masih berkisar 10.000.
Urusan parit tumpat atau mampet sehingga menjadi masalah lingkungan
yang menyebabkan banjir, sanitasi yang tidak baik, penghuni rumah yang
menjadi sasaran gigitan nyamuk dikeluhkan hampir seluruh warga dalam
acara reses. Ibrahim Nasution yang mengadakan reses di Kelurahan
Satria mengatakan bahwa ada anggaran Rp 100 juta di kelurahan yang
kiranya dapat menyelesaikan masalah banjir di lingkungan
masing-masing.
Seorang penggali kuburan bernama Sugianto warga Jalan Bilal, Kelurahan
Deblot Sundoro, dalam reses Hj. Sofiani Tambunan anggota DPRD
mengungkapkan perlunya perhatian pemerintah untuk memberikan bantuan
cangkul, beko, tenda dan bila memungkinkan memberikan honor kepada
penggali kuburan.
Hj. Sofiani Tambunan menyikapi hal ini dengan menjadikannya sebagai catatan untuk disampaikan dalam rapat dewan.
Keprihatinan yang berbeda yang melibatkan anak di bawah umur, yang
banyak terjerumus dalam berbagai tindak kejahatan pencurian, narkoba
juga menjadi segmen pembahasan dalam reses. Ir. Zainal Arifin
Tambunan, memberikan saran agar peran orang tua dalam mengawasi
perkembangan anak-anaknya benar-benar dilaksanakan. Orang tua harus
mengarahkan anaknya dalam kegiatan yang positif, misalnya menurut
Zainal Arifin, bahwa ia secara pribadi banyak membina anak-anak muda
yang dalam bidang olah raga karate. Dojo-dojo (klub) pembinaan karate
yang dibawah naungannya ada di setiap kelurahan di Kecamatan Padang
Hulu.
Menyinggung bantuan pemerintah untuk perumahan dijelaskan oleh Ibrahim
Nasution bahwa pemerintah melalui Kemenpera telah menyalurkan bantuan
400 unit dalam bentuk aladin. Sementara anggota DPRD yang disebutkan
di atas mengisi kegiatan reses dengan dialog interaktif membahas
berbagai masalah sosial yang dihadapi, Ketua DPRD Kota Tebing Tinggi,
Mohd Ridho Chap mengisi kegiatan reses dengan bersilaturahmi memberi
makan masyarakat yang diundang serta menyajikan hiburan bergoyang
dangdut. (tim)


Posting Komentar