Krisis Gas 3 Kg Masih Berlanjut di Sumut
https://anakbangsapost.blogspot.com/2014/10/krisis-gas-3-kg-masih-berlanjut-di-sumut.html
Medan, (ABP)
Krisis kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kg di Sumatera Utara yang sudah lebih seminggu terjadi ternyata hingga kini belum juga selesai. Hampir disemua kabupaten/kota se Sumatera Utara mengalami krisis kekurangan pasokan gas. Kelangkaan ini memicu kenaikan harga gas 3 kg hingga Rp 30 ribu pertabung.
Laporan dari sejumlah daerah menyebutkan akibat kelangkaan gas elpiji ini membuat keresahan ditengah-tengah masyarakat. Sebagian masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah pedesaan beralih ke kayu bakar dengan memanfaatkan sisa-sisa kayu disekitar rumah mereka.
Sedang di kota besar seperti Medan dan Pematangsiantar, sebagian warga terpaksa membeli tabung gas ukuran 12 kg yang memang masih banyak dipasaran. “Kami terpaksa membeli tabung gas 12 kg yang harganya ratusan ribu karena sulit cari yang 3 kg,”aku Nurmala warga Pangkalan Masyur Medan, Sabtu (11/10/2014).
Bagi warga yang kurang mampu tentu saja krisis gas ini membuat mereka kelimpungan untuk memasak. “Sejak seminggu lalu saya beralih ke kompor minyak tanah lagi,”kata br Samosir yang tinggal di sekitar Pajak Horas Pematangsiantar. Mereka juga mulai membatasi aktivitas memasak.
Disisi lain, sejumlah usaha kecil yang bertumpu pada gas 3 kg juga mengurangi penjualannya, khususnya rumah makan skala kecil. “Harga gas yang berkisar Rp 20 ribu-Rp 30 ribu memberatkan kami bang,”kata Tanjung yang membuka usaha kedai nasi di Limapuluh, Batubara.
Pada saat pasokan normalpun sebenarnya beberapa kabupaten/kota masih kekurangan gas elpiji. Misalnya di Kabupaten Labuhanbatu yang setiap hari masih kekurangan 1.947 tabung gas ukuran 3 kg.
Di Medan harga gas pada tingkat pengecer sudah mencapai harga Rp 22 ribu padahal pada saat normal berkisar Rp 16-17 ribu saja. “Itupun kalau ada barangnya, saya mencari gas ini hampir 2 jam keliling-keliling,”kata Nur, ibu rumahtangga yang tinggal di Jl Denai.
Pantauan ABP setiap kali ada mobil pengantar gas masuk ke pangkalan selalu diserbu warga. Hal ini menyebabkan pihak pangkalan membatasi pembelian warga agar seluruh warga bisa mendapatkannya.
Belum diketahui hingga kapan krisis gas ini berakhir. Demikian juga belum ada penjelasan resmi dari Pertamina soal pasokan yang tersendat. (ea)
Posting Komentar